Selasa, 22 November 2011
MY LAST LOVE : Kisah Mengharukan cinta gadis lumpuh dan laki-laki penderita HIV
” Masa kemudian yaitu pilihan yang kita lalui sedangkan masa depan yaitu pilihan yang kita tentukan” agnes davonar
” Sebuah kisah cinta antara Angel seorang gadis lumpuh dan Martin seorang penderita AIDS, Bagaimana mereka memperlihatkan pada dunia, Tidak ada yang berbeda dengan apa yang orang lihat, mereka hanyalah insan yang berusaha untuk diakui sebagai bab dari masyarakat”
Tentang Angel.
Seorang gadis berusia 23 tahun. Bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan seluler. Ia mempunyai seorang kekasih berjulukan Hendra. Angel begitu bergembira ketika pulang dan memeluk ibunya.
“ Bu, Hendra akan melamarku malam ini dan kami akan bertemu di taman kota, kawasan dimana pertama kali bertemu..” kata Angel pada ibunya.
“ Bagaimana kau yakin nak?”
“ Tentu saja saya yakin, lantaran kami sudah merencanakan itu, dan Hendra bilang malam ini iya akan melamarku..”
“ Kalau begitu lekaslah kau pergi dan berganti pakaian terbaikmu..”
Angel bergembira malam yang ia tunggu selama mereka berpacaran lebih dari 3 tahun kini menjadi tamat dari kisah cinta mereka.
Tentang Martin.
Martin berumur 25 tahun. Pria playboy dan terlahir dari keluarga jutawan.Jam membuktikan pukul 7 malam. Tiba-tiba pintu kamarnya terdengar ketukan. Martin sedang tertidur, ia berdiri dan membuka pintu dengan wajah kesel. Seorang aju dan ayahnya terlihat didepan pintu.
“ Kenapa sih? Ganggu orang tidur aja..!!!”
“ Maaf tuan, Ayah anda sudah menunggu di ruang tamu untuk makan malam keluarga.”
“ Bilang padanya, saya ada dibawah sebentar lagi..” Kata Martin tidak melawan.
Ajudan itu pergi, Martin merapikan mukanya yang kusut lantaran semalam ia gres saja pergi dugem dan pulang pukul 7pagi, sehabis rapi ia pun pribadi ke bawah menemui ayahnya di meja makan. Bersama ibu dan adiknya Sheila.Ia duduk begitu saja.
“ Begini cara kau membesarkan anakmu? Pagi jadi malam, malam jadi pagi. “ kata ayah ketus.
“ Sudahlah pak, Martin ayo makan.”
Dengan setengah hati martin makan. Tapi gres merasakan sedikit sarapan. Ia sudah menghilang dengan wajah kesel ayahnya. Martin pergi dengan kendaraan beroda empat BMWnya menelusuri jalan yang sudah penuh dengan lampu warna warni. Kota ini akan merayakan natal dalam waktu beberapa hari lagi.Ia hanya berujar dalam hati.
“ Ayahku kaya, untuk apa berkerja. Tujuh turunan pun tidak akan pernah habis.”
Seorang gadis menelepon padanya. Tampaknya gadis itu yaitu incarannya untuk malam ini, Mereka tampak asyik sibuk berbicara bersamaan, DIitengah jalan.
Kembali ke Angel.
Ibunya sudah berdiri di depan pintu. Angel menyalakan motor vespanya. Lengkap dengan pakaian terbaiknya.
“ Aku pergi dulu ya..”
“ Kenapa tidak kau minta di jemput saja.” Tanya ibunya.
“ Tidak apa bu, Hendra pribadi pulang kerja. Kan nanti kena macet. Lagi pula saya ingin pergi masing-masing saja. Makara bertemu disana.”
“ Ya, sudah nak. Hati hati ya.”
Angel pun melaju motornya sambil membayangkan apa yang akan terjadi dalam hari terindahnya.
Kembali ke Martin.
Martin tampak tertawa, gadis itu membiuskan kata-kata indah di telinganya. Ia selalu ingat jikalau ia bisa memperlihatkan apapun yang diinginkan oleh gadis yang menyukainya, ia rela memperlihatkan uang , permata ataupun emas yang diingkan. Saat ia berjalan, ia tidak menyadari lampu merah diatasnya. sebuah vespa yang melaju di lampu hijau. Martin terkejut, mobilnya melaju. Menabrak vespa itu sampai terpental. 10 meter jauhnya. Yang ia ingat, seorang gadis terkujur kaku dijalan. Hatinya risau, apakah ia harus melihat korban itu. Atau melarikan diri, tapi ia tau. Bila ia mendekat, maka ia akan menciptakan duduk kasus dengan dirinya sendiri diantara kerumunan orang yang mulai mendekati korban.
Ia pun tetapkan satu kenyataan— lari dari insiden itu.
Tentang Hendra.
Ia menunggu tanpa adanya kejelasan ditaman. Hatinya cemas, ia mencoba menelepon Angel berulang-ulang tapi sama sekali tidak diangkat. Satu jam berlalu, hatinya mulai cemas. Ia berpikir, Angel menolak dirinya. Hingga ia menelepon terakhir kali dan mendapatkan bunyi asing, bunyi seorang laki-laki yang menyampaikan kalau gadis yang mempunyai hendphone itu. Sedang dirawat dalam ruangan unit darurat. Ia pribadi menuju rumah sakit, menyimpan cincin tunangan untuk Angel. Saat ia tiba, ibu Angel tampak berdiri dengan tangisan khawatir.
Kembali ke Martin.
Ia mulai sadar, banyak saksi yang melihatnya dengan nomor mobilnya. Ia ceritakan duduk kasus ini kepada ayahnya. Ayah meminta ia bertanggung jawab, tapi ibunya menolak. Ia sadar putranya bisa berada di penjara bila ia menyerahkan diri. Uang tidak berarti bagi putranya untuk lepas dari Penjara. Satu keputusan ketika itu juga. Martin harus pergi keluar negeri. Melarikan diri dan menciptakan alibi dengan orang lain yang berada di mobil, dengan uang ayahnya bisa membayar orang lain untuk berpura-pura mengaku melaksanakan perbuatan yang tidak ia lakukan.
Natal terlewatkan dengan duduk kasus diantara ketiganya. Hendra bersedih dengan keadaan kekasihnya. Angel tidak pernah tau keadaanya, Martin melarikan diri dengan rasa gundah dan bersalah.
2 bulan berlalu.
Angel masih berada di rumah sakit. Ia mulai sadar, tapi kakinya telah dinyatakan hilang. Ia harus mengalami kelumpuhan di kedua kakinya. Hendra menemani kekasihnya. Memberikan derma batin dan kekuatan yang tidak bisa Angel bayangkan untuk hidup. Angel pun berusaha mendapatkan kenyataan kini ia cacat.
Martin berada di Australia menghabiskan waktunya dengan minum dan minum untuk melepas kegelisahan hatinya.
6 bulan berlalu.
Angel berdiri untuk pertama kalinya dari dingklik roda. Hendra menopang kakinya untuk berjalan. Walaupun merasa berat di hatinya. Ia sadar ia tidak akan pernah menjadi normal.
Martin semakin gelisah, ia ingin pulang. Ibunya bilang padanya tunggulah sampai 6 bulan ke depan. Hanya satu yang ingin ia tanyakan
“ Ibu bagaimana keadaan korban yang saya tabrak?”
“ Dia tidak mati, ia masih hidup.”
“ Syukurlah, tapi saya tetap ingin tau.”
“ Kamu akan tau kelak bila kau pulang, lebih baik kau tetap disana sampai masalah ini ditutup.”
1 tahun berlalu.
Angel mulai bisa berjalan dengan menggerakan dingklik roda lewat tangannya. Hendra mengajaknya untuk bertemu orang tuanya. Apa yang ia dapatkan ketika ia sedang duduk di sofa ruang tamu. Tanpa sengaja ia mendengar apa yang ibu Hendra katakan.
“ Ibu tidak ingin punya menantu lumpuh dan cacat menyerupai itu.”
“ Ibu kenapa bilang begitu, bagaimanapun ia yaitu Angel yang sama, sama menyerupai ketika saya membawanya pertama kali.”
“ Berbeda. Ia gadis cacat.. bukan gadis anggun yang dulu kau bawah.”
Keduanya bicara, dan Angel mendengar. Ketika mereka sadar. Angel telah menyampaikan satu hal yang begitu berat untuknya.
“ Maafkan aku, mulai ketika ini saya akan melepaskan Hendra untuk selamanya.”
Hendra berusaha untuk tetap bertahan, tapi jadinya ia pun mendapatkan keputusan Angel.
Martin telah kembali sehabis ia mendapatkan kepastian kalau kasusnya telah kelar dengan orag lain yang bersedia mengantikan dirinya di penjara.
***
Angel mencoba untuk bekerja normal. Ia tidak akan ditolak di kantor lamanya, tapi dengan kaki yang pincang dan terkadang harus mengunakan dingklik roda. Ia merasa menyerupai seorang yang tak berguna, hanya bisa merepotkan siapapun. Ketika ingin naik escalator ataupun menaikin tangga semuanya terasa berat. Setiap malam ia hanya bisa menangis, melihat keadaanya, ibunya menyadari keadaan putrinya, hatinya pun perih tapi hanya bisa berharap ilahi memperlihatkan kekuatan untuk anak semata wayangnya sehabis ayah Angel meningal.
Martin berhasil mendapatkan apa yang ia ingin tau, perihal korban yang selalu membayangin dirinya. Dan sumber informasinya menyampaikan perihal gadis itu. Ia mendapatkan kantor Angel. Ia segera menuju kantor itu yang ternyata merupakan bab dari perusahaan ayahnya. Saat itu ia melihat Angel tampak berusaha menaiki tangga. Hatinya tergerak untuk mendekat. Membantu mendorong dingklik rodanya.
“ Terima kasih..” Kata Angel padanya.
Martin terdiam, hatinya begitu pilu melihat Angel begitu anggun tapi jadi cacat karenanya.
“ Tidak masalah.”
“ Kamu kerja dikantor ini lantai berapa?”
“ Lantai 3.”
“ Kamu?” Tanya Angel balik.
Martin galau menjawab pertanyaan Angel, ia tidak pernah berkerja sampai jadinya ia mengarang sebuah kisah.
“ Aku gres kerja disini, di lantai dua,”
“ Oh ya..:”
“ Andai saja saya di lantai satu, niscaya saya ga perlu repotin orang hehehe. Makara ga lezat hati..” kata Angel.
Meraka tiba di eskalator. Sekali lagi Angel mencucapkan terima kasih pada laki-laki itu.Martin pulang saayt itu pula dengan wajah bersedih. Ia ingin menangis melihat dosa yang ia lakukan pada Angel. Ia pulang kerumah ayahnya dan meminta perkerjaan di kantor itu. Ayahnya begitu heran dengan perilaku putranya tapi mendapatkan keputusan Martin. Ia pribadi menjadi direktu dalam perusahaan itu. Dalam satu hari ia memutusan untuk memindahkan kantor dimana Angel bekerja dari lantai 3 ke 1. Setiap harinya ia selalu memandangin Angel ketika ia bisa, ia tak pernah mengalami satu keadaan yang begtu sulit dalam hidupnya. Ia tetapkan untuk mendekati Angel, mencoba untuk menyampaikan satu kejujuran yang tak bisa ia ucapkan ketika ini. Tentang hal yang menciptakan Angel menjadi menyerupai ketika ini.
Dari hari ke hari, mereka semakin dekat. Martin menciptakan banyak akomodasi di kantor untuk Angel biar bisa mengunakan dingklik rodanya secara bebas. Ia makan bersama Angel di kantin yang tidak pernah ia jamah sebelumnya. Mengenang sosok Angel yang berhati mulia, sosok yang rendah hati dan mendapatkan kenyataan hidupnya sebagai gadis cacat.Suatu hari lantaran bosan, Martin mengajak Angel untuk makan di luar.
“ Makan denganku di luar? Tidak salah kau kan eksekutif disini?”
“ Emangnya eksekutif dihentikan makan bersama kamu.”
“ Bukan begitu, saya hanya takut merepotkan eksekutif bila jalan bersamaku. Kota ini tidak ramah dengan dingklik roda, saya tidak ingin merepotkan eksekutif bila jalan bersamaku sampai harus mendorong dingklik ini.”
“ Tenang saja, ayo katakan apa yang ingin kau makan, ini perintah dari Direktur jangan pernah menolak!!”
“ Baiklah. Aku ingin makan Sushi Tei, sungguh saya sudah usang tidak pernah makan disana.”
“ Kalau begitu ayo kita makan.”
Mendengar Angel ingin makan sushi tei, Martin pribadi meminta asisten ayahnya untuk membooking semua dingklik yang ada di restorant itu hanya untuk mereka. Ketika Angel tiba di sushi tei, ia terkejut melihat restorant itu hanya ada mereka berdua. Ia hanya mendengar kata terakhir Martin.
“ Makanlah semua yang kau inginkan..”
Mereka pun makan dengan lahap. Martin begitu menikmati keadaanya bersama Angel, sampai mereka menyadari kalau natal akan tiba dalam beberapa ahad lagi.
“ Kalau natal nanti, apa yang kau inginkan Angel.”
“ Aku kalau natal selalu meminta banyak hal, tapi sayangnya tidak pernah terjadi tuh. “
“ Kalau begitu katakan lah, saya ingin tau..”
“ Sungguh kau ingin tau?”
“ Tentu saja saya ingin tau.. ayolah sebutkan.”
“ Aku ingin bisa berjalan lagi..”
Hendra tertegun, hatinya miris dan wajahnya menunduk.Tadinya ia berpikir ingin memberikah hadiah kepada Angel, apapun yang Angel inginkan. Kini mendengar undangan sulit itu, ia bersedih.
“ Adakah hal lain yang bisa kau katakan selain itu,?”
“ Tidak ada, saya tidak ingin meminta soalnya. Kamu tahu tahun kemudian ketika saya sudah meminta eh tiba-tiba malah ga pernah terjadi..”
“ Kalau boleh tau, kau tahun kemudian minta apa?”
Angel tertunduk, ia sadar natal tahun kemudian begitu kelabu, ia meminta Hendra meminangnya dan semua benar-benar gagal.
“ Aku tidak bisa katakan, itu sudah menjadi masa lalu, kalau kamu? Katakan dong apa yang kau mau?”
Martin mendekat kepada Angel, matanya tampak serius.
“ Aku tidak ingin apa-apa selain hanya bisa melihatmu tersenyum. Itu cukup buatku.”
Angel pun tertawa. Mereka melewatkan makan siang itu begitu gembiranya. Setelah makan siang, Angel turun ke loby. Saat itu Martin hendak menggendong badan Angel mobil. Tanpa sengaja Angel melihat Hendra sedang bersama perempuan lain melewati mereka. Angel termangu melihat mantan kekasihnya, Begitu pun Hendra. Hanya Martin dan kekasih Hendra yang tak mengerti apa yang menciptakan keduanya saling bertatapan.
Hendra pun berjalan dan masuk ke mobil. Angel melihat Hendra pergi darinya. Ketika ia di mobil, ia menangis. Martin begitu bingung. Dan bertanya apa yang terjadi. Angel pun menyampaikan satu hal perihal natal tahun kemudian dan harapannya.
“ Aku ingin menikah, tapi kekasihku tidak bisa lantaran saya sudah menjadi cacat..”
Martin hanya terdiam, hatinya semakin tak berdaya.
****
Natal telah tiba, Martin mulai mengerti satu alasannya untuk menjadi seorang laki-laki pada utuhnya. Ia memperlihatkan hadiah kepada Angel, sebuah hadiah yang mungkin terlalu berharga untuk Angel. Sebuah kalung berlian di leher Angel. Martin menyadari satu hal, ia mulai menyayangi Angel. Ada yang harus ia katakan di program makan malam natal bersama mereka. Di atas meja makan dengan lilin merah menyala, Martin menyatakan cinta kepada Angel.
“ Apakah kau yakin ingin menjadi kekasih dari seorang gadis cacat sepertiku?
“ Aku berjanji dalam hatiku dan atas nama Tuhan kalau, saya bersungguh-sungguh ingin menjadi bab dalam hidupmu Angel, apapun yang terjadi dengan keadaanmu, kau yaitu gadis yang kuinginkan dalam hidupku, kini dan selamanya.”
Kalimat itu menciptakan Angel begitu bahagia, walaupun ia ragu pada awalnya. Pada jadinya Martin benar-benar membuktikan satu hal kepada Angel. Ia benar-benar menyayangi gadis itu.Mereka pun berpacaran secara resmi. Keluarga Martin yang tidak pernah melihat Martin demikian berubahnya dalam hidup menyambut kegembiraan putranya begitu bahagia.Suatu ketika dimalam hari, Angel merasakan kuasa Tuhan, tiba-tiba jari kakinya bisa bergerak. Ia mulai menyadari satu hal, kalau ia mulai bisa merasakan kakinya kembali setela usang lumpuh tanpa bergerak.
Martin tidak pernah mengerti. Mengapa tubuhnya semakin usang semakin lemas. Hingga jadinya ia jatuh sakit. Ia terdampar di rumah sakit. Angel tiba dan menciptakan keluarga martin begitu terkejut.
“ Siapa ia ?” Tanya ibu Martin pada Martin yang terbaring ketika Angel bersamanya.
“ Ini kekasihku bu..”
Keluarga Martin terdiam. Ia tidak pernah meyangka kalau anaknya punya pacar yang cacat. Semua bisa menebak kalau tentu saja keluarga martin tidak pernah bisa mendapatkan hubungan mereka. Tapi Martin tidak peduli. Saat itu, sehabis kelua dari rumah sakit. Ia benar-benar mendapatka hadiah terburuk dalam hidupnya. Martin positif HIV. Sebuah kenyataan yang begitu pahit dalam hidupnya, ntah gadis mana yang ia tidurin dan menularkan penyakit itu padanya.
Ia paham hidupnya menyerupai kiamat. Tapi dalam kesempatan itu, ia terus berjuang untuk hidup. Angel menyampaikan pada Martin kalau kakinya mulai bisa bergerak. Martin melihat itu sebagai keajaiban, ia pun pergi menyelidiki keadaan kaki Angel dan dokter menyampaikan kemungkian sembuh normal yaitu 20 persen. Berita yang indah untuk Angel, tapi sayangnya dokter mengatan harus segera dilakukan operasi untuk menciptakan kakinya menjadi normal lantaran ada beberapa bab urat pada kaki angel yang harus di ganti.
Martin tetapkan untuk membawa Angel ke rumah sakit terbaik di dunia. Angel menolak pada awalnya tapi inilah yang terjadi di malam sebelum itu semua terjadi.
“ Angel, saya selalu ingat keinginan kau di hari natal. Kamu ingin berjalan. Tuhan telah mendengarkan impianmu itu, sekaranglah jalanmu. Kamu harus ikut saya pergi. Lakukan ini untuk kebahagiaanmu, jangan pikirkan biayanya lantaran saya bisa membantu.”
“ Tapi kau terlalu baik untukku, saya tidak ingin berhutang budi.”
“ Kamu tau, saya punya keinginan undangan natal juga. Kamu ingin tau?” terang Martin.
“ OK katakan.”
“ Aku ingin kelak meihat kau berjalan dan saya bisa senang bersamamu sehabis itu dan..?”
“ Dan apa?”
“ Akan kukatakan kalau kau sudah mau ikut saya ke untuk menyembuhkan kakimu,”
“ Baiklah..”
Mereka pun berangkat. 3 bulan sebelum natal. Operasi berjala dengan baik, tapi keadaan martin yang terlalu lelah membuatnya semakin buruk.Tapi lelahnya itu dibayar dengan semangat angel yang ingin sembuh dan berjala di ketika natal. Semua terjadi, semua yang dilakukan dokter berhasil. Angel pun sembuh, ia mulai bisa berjalan dengan perlahan. Martin yang setia menjaganya selalu ada disampingnya.;
Hingga natal pun tiba. Angel berdua dengan martin. Di sebuah kawasan yang indah., wajah martn begitu pucat. Martin pun meneruskan apa yang hendak ia katakan kepada Angel sesaat sebelum Angel di operasi.
“ saya sudah maafkan kau semenjak kita bertemu..?” kata Angel yang menciptakan Martin bingung.
“ Kamu maafkan untuk apa?”
“ Kamu tidak perlu katakana apapun, saya sudah memaafkan dan menyayangi kau dengan setulus hatiku.”
“ Angel, bagaimana kau bisa tau?”
“ Aku tidak akan pernah lupa insiden itu, sesaat sebelum insiden itu saya melihatmu. Walau kurang jelas saya bisa tau itu kamu.”
“ Aku benar-benar menyesal Angel, maafkan aku..”
“ Lupakan semuanya Martin. Aku selalu mendapatkan keadaan ini sebagai takdir.”
“ Angel ada satu hal lagi yang ingin kau tau..”
“ Katakan Martin?”
“ Aku positif HIV..”
Angel terdiam. Dan ia menyampaikan satu hal untuk martin.
“ Ketika kau melihatku sebagai gadis cacat, kau tidak pernah merasa malu ataupun merasa takut bila saya merepotkan kamu. Aku begitu tersentuh, setiap insan mempunyai sisi yang tak bisa ia hindarkan perihal ketakutan akan petaka. Tapi kau berbeda Martin, kau menyadarkan saya untuk kuat, oleh lantaran itu, walaupun kau menderita HIV, kini saatnya saya melakukab hal yang sama!”
“ Kenapa kau mau? Kamu tidak takut padaku.”
“ Karena inilah takdir kita, apapun yang terjadi dengan keadaanmu. Kamu yaitu bab dalam hidupku yang akan selalu ada. Aku akan selalu ada disampingmu..”
Martin dan Angel menikah beberapa bulan kemudian. Setahun kemudian Angel sudah bisa berjalan tanpa tongkat, dua tahun kemudian. Mereka melahirkan anak dengan ajaibnya normal tanpa penyakit apapun. Tiga tahun kemudian di natal 2009., Martin meninggal lantaran penyakitnya.
Seperti kata Angel
“ Bagaimanapun keadaan kita dan siapapun yang mempunyai keadaan sulit, janganlah merasa kau akan sulit karenanya. Karena kita tidak bisa menentukan apapun dalam hidup kita, selain bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan di masa lalu. Tapi percayalah masa depan akan indah bila kita beusaha untuk mendapatkan keadaan kita.”
Kupersembahkan kisah ini untuk semua penderita AIDS di dunia, percayalah kalian yaitu makluk ilahi yang paling senang dengan keadaan apapun.
Untuk sahabatku yang telah pergi dengan keadaan sama, saya merindukanmu.
0 Response to "Kisah Mengharukan"